Tempat obrol politik sambil ngopi

Kisah inspirasi Shera, mempertahankan rumah tangga meski diperlakukan kasar

25

Kisah Shera, mempertahankan rumah tangga meski diperlakukan kasar

Memasuki masa kuliah di Universitas Padjadjaran, Shera, nama samaran yang kini berusia 37 tahun menyalurkan hasrat berorganisasinya dengan bergabung di sebuah organisasi berbasis agama yang kini telah dicap sesat, Negara Islam Indonesia (NII).

“Saya mengikuti selama itu sampai kuliah terbengkalai. Sampai uang saya habiskan ke mereka karena saya merasa mereka ada untuk saya. Jadi saya tidak berpikir logis waktu itu.

Saya berdakwah dan berdakwah sampai akhirnya sakit karena tekanan uang. Keluar. Itupun saya dikejar-kejar,”

Setelah sembuh dari sakit, Shera pindah kuliah ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di perguruan tinggi keguruan ini, Shera bertemu pria yang telah menyatakan keseriusan menjalin rumah tanga dengannya.

Gayung bersambut, Shera yang sedang terasing karena aktivitasnya selama di NII pun menerima pinangan tersebut. Apalagi aktivitasnya di NII disebut-sebut sebagai penyebab kematian ibunya. Ayahnya pun memilih menikah lagi sehingga dia merasa tak ada siapa-siapa lagi yang bisa menguatkan.

Akhirnya, pada tahun 2002, Shera memutuskan menerima pinangan pria yang lebih tua darinya 11 tahun itu, meskipun mereka baru kenal 6 bulan lamanya. “Walaupun saya belum merasa cocok dengan dia, tapi karena laki-laki ini sudah berani menikahi saya, saya menikah.

Saya sudah merasa aman, hidup saya sudah tenang. Tapi ternyata tidak, saya masuk ke lubang singa,”

Baru 2 minggu menikah, suami Shera sudah menunjukkan sikap kasar dan tidak mau mendengar omongan Shera. Suaminya ini juga tak jarang pulang subuh dengan mulut bau minuman.

Dia tidak bekerja karena merupakan keturuunan konglomerat sehingga biaya hidup didapatnya dari warisan. Shera juga merasa malu untuk kembali ke rumah orangtuanya sehingga tetap bertahan di rumah suaminya.

“Saya sering melihat berita perempuan yang sangat tertindas. Makanya saya tidak boleh begitu karena kita akan rugi sendiri dan anak-anak kita juga korbannya. Dan mereka harus dikalahkan, laki-laki seperti ini tidak boleh dibiarkan tapi, bukan berbalik kasar, bagaimana caranya (supaya berubah),” kata perempuan lulusan UPI ini.

Ketika ingin melanjutkan kuliah Strata-1, Shera berupaya membiayai diri sendiri dari membuka les privat.

“Mungkin lama-kelamaan hati suami saya tergugah sehingga dia membantu keuangan untuk kuliah. Suami saya membantu sekitar 80% uang kuliah,” terangnya.

“Saya mensyukuri. Berarti dia ada perubahan di situ. Jadi saya merasa kembali ada obat walaupun merasa ditindas. Emang sih inginnya saya sendiri. Karena khawatirnya nanti dia menyabik-nyabik lagi. Tapi waktu itu kan susah dan saya perlu jadi saya manfaatkan, saya terima. Akhirnya saya lulus, suami ikut senang,”

Pada 2015 awal mereka tak mampu mempertahankan rumah tangga sehingga Shera harus mengontrak rumah meskipun tengah hamil anak ke-3. Beruntung pria yang telah menjadi mantan suaminya itu bersedia menanggung biaya persalinan.  

“Saya tidak pernah melawan, tidak pernah apa, mau ditampar atau dipukul paling saya nangis. Cuma ibaratnya saya diam-diam menghanyutkan,” akunya. Shera selalu punya rencana untuk membuktikan bahwa dirinya seorang yang mandiri.

“Setiap kali saya  berkata jujur dan terbuka kamu tidak pernah mau menerimanya hingga akhirnya saya rela membohongi kamu. Sebelumnya kan saya suka bilang, tapi kamu menolak dengan bahasa yang menghinamalah merendahkan martabat saya.

Minimal kita itu partner lah. Anak-anak tu mendengar kamu mendengar kamu mencaci saya tuh sakit anak-anak,” tutur Shera menirukan ucapannya pada sang suami suatu ketika.

Pertengahan 2015 mereka rujuk, meskipun diakui Shera, keluarganya tidak menyetujui. “Setelah itu saya libatkan suami saya dalam kegiatan saya. Dia sedikit demi sedikit merasa malu telah menghina saya.

Apa yang dia dan keluarganya hinakan semua itu harumnya mendekati saya dan baunya mendekati mereka,”

“Menurut saya dia gengsi untuk meminta maaf. Tapi terlihat dari sikapnya bahwa dia menghargai saya sekarang ini, agak berubah dari temperamennya.

Kalau marah agak hati-hati, kalau bicara mau mendengarkan,” terangnya. “Ini bukan akhirnya, tapi ini awal untuk mewujudkan mimpi saya,”

Suaminya kini turut membina masyarakat atas permintaan Shera. Sekarang suami Shera juga menyibukkan diri dengan bertani, ternak domba, serta menanam kayu.

Berkomentar Dengan Bijak
You might also like